Selasa, 14 Agustus 2018
Yuk Bahagia!
Kamis, 26 Juli 2018
Masih, Kamu.
"Kamu, sampai nanti, sampai waktu yang tidak diketahui."
"Mungkin saya terlalu sulit untuk melupakan kamu, atau saya yang terlalu mudah untuk terus mengingatmu."
Selasa, 15 Mei 2018
Sekedar Kamu Tau
Bosan kadang menjadi pembunuhan dalam berusaha, kadang mematikan langkah dengan sensitifitas yang meningkat tinggi. Tapi jujur saja bukan aku bosan, bosan tuk berjuang, bosan tuk berusaha. Tidak sama sekali. Hanya saja aku harus mulai tau diri. Lari mungkin terlihat tepat bagi orang sepertiku yang lupa bahwa akan ada kerusakan diujung jalan.
Cukup aneh memang, seperti aku akan merasa kehilangan yang pada dasarnya aku tidak memiliki. Mungkin aku harus mulai terbiasa, atau membiasakan diri untuk kembali seperti semula. Aku tidak mengingkarinya, aku yakin cara untuk berdamai adalah dengan mengakui dan menyadari keadaannya. Bukan aku ingin, tapi aku harus. Lagi pula hati mana yang cukup kuat melihat orang yang ia sukai, ia kagumi dan ia inginkan justru bahagia bersama orang lain. Memang benar dan aku tidak berbohong jika ku katakan aku ingin selalu melihatmu bahagia, tapi "aku ingin kamu bahagia karena aku" lebih tepatnya.
Sekarang apa yang kamu tunggu telah kembali. Kuharap dia bisa membahagiakanmu dengan sangat, menjagamu dengan pekat, menggenggammu dengan erat, dan sesekali ingat, aku pernah sangat menginginkan ada diposisi itu, dimana dunia seakan-akan tidak mengganggu, hanya kita, aku dan kamu. Jika nanti kita jauh dan kamu sesekali bertanya dalam ragu, apakah aku rindu? Kamu tau jawabannya adalah, selalu.
Aku percaya, salah adalah salah jika kita tidak belajar dari kesalahan. Aku pernah melakukan kesalahan, dan salah besar karena aku mengulanginya sekarang, denganmu. Tapi, sekarang, sedikit banyak aku belajar dan mungkin kamu pun begitu. Aku paham apa yang seharusnya tidak ku lakukan. Sayangnya untuk mempelajari hal-hal itu harus mengorbankan hal paling krusial, yaitu perasaan. Aku mengorbankan perasaan suka yang bahkan sudah tumbuh menjadi rasa sayang dan rasa ingin memiliki. Sementara kamu, mungkin hanya mengorbankan rasa gak enak hati terhadapku, karena tidak ingin aku kecewa. Terlepas dari keinginanmu atau tidak, menurut ku kamu juga berfikir itu harus, agar hubungan kamu dengannya baik-baik saja. Kamu beruntung, kamu hanya kehilangan apa yang tidak kamu pilih. Sedangkan aku, aku kehilangan segala yang selama ini aku perjuangkan, meski tidak banyak tapi itulah yang aku korbankan. ah, sebenarnya tentang perasaanmu aku tidak benar benar tau, hanya mengira-ngira. Tapi setidaknya itulah yang terpikirkan oleh otak kecilku, dan aku akan terus mencoba mengorbankan hal paling krusial itu.
Sebagian orang bilang kalau terkadang kita harus memiliki keberanian untuk melepaskan, dan sebagian lainnya berkata bahwa kita harus punya keberanian untuk terus bertahan. Sebenarnya aku lebih setuju dengan yang kedua. Tapi, ceritanya berbeda, sekali lagi ku katakan, bukan aku ingin, tapi aku harus memilih untuk setuju pada sebagian orang yang kukatakan pertama tadi. Ya, sebagai bentuk sikap bahwa aku cukup tau diri. Jika kamu bukan milik siapapun, dengan tegas akan ku katakan bahwa aku orangnya, yang paling punya keberanian untuk bertahan dan terus memperjuangkan kamu. Tapi aku sadar bahwa kamu memiliki ikatan dan sangat berkomitmen dengan hal itu. Aku menghargainya dan aku harus cukup berani untuk melepaskan keinginanku. Melepaskan perasaanku yang sangat ingin terus bersamamu.
Bulan terlihat cantik malam ini. Oh ya, aku lupa kalau itu tidak terlihat. Karena langit sedang berawan malam ini. Menyebalkan sekali, aku tak menyangka melangkah pergi dengan perasaan yang terbakar, akan menyisakan rasa seburuk ini. Tapi gapapa, aku ngerti. Harapan dan kenyataan kadang berjalan berdampingan menuju arah yang berbeda. Dan diujung pemikiranku tentang cinta, aku pernah berfikir "cinta adalah apa yang membuatmu bahagia" atau "kalau tidak membahagiakan, berarti itu bukan cinta". Tapi menurutku sekarang, indah atau tidak rasa cinta ini, aku masih menamakan rasa ini cinta.
And i know, in the end i had to leave.
Senin, 30 April 2018
No title
Padahal sakitmu, saya yang ingin redakan, Tapi kamu memilih dia untuk menyempurnakan sakit itu.
Jumat, 06 April 2018
Aku Benci
Aku benci jatuh cinta. Jatuh cinta sama orang yang udah memberikan hati jiwa dan raganya untuk orang lain lebih tepatnya. Halahh. Semacam pengharapan yang tidak diharapkan.
Aku benci menulis seperti ini. Menulis tentang hal remeh yang tidak bermanfaat untuk orang lain. Tapi kalau dipikir pikir blog ini emang gak pernah ada yang bermanfaat sih. Udah lama gak ngepost dan berharap sekalinya ngepost lagi bisa posting tulisan dengan tema yang gak melulu tentang cinta. Tapi apa? Lagi-lagi bicara cinta yang sebenarnya aku tidak ingin ceritakan. Tapi akhirnya kutulis juga.
Aku benci memperlihatkan kesedihan. Depresi dan gak tau harus ditumpahkan kemana. Tapi gak bisa ditahan-tahan juga. Mungkin sama aja sih kalau nulis di blog bisa keliatan orang, tapi kan jarang-jarang orang liat blog. Kasarnya tetep aja ini terkesan seperti ngemis perhatian. Tapi jujur, maksudku bukan begitu, hanya ingin menumpahkan aja. Kebetulan aku tidak punya siapapun untuk menjadi tempatku bercerita. Jadi biarlah kutumpahkan disini, nanti tinggal di lap kalau udah tumpah.
Aku benci menjadi aku. Menjadi aku yang gak bisa milikin dia lebih tepatnya. Aku gak nyalahin dia, karena emang dia gak salah. Lebih baik nyalahin diri sendiri, aku udah terbiasa menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku yang terlalu lebay, menganggap berlebihan, merasa bahwa aku datang disaat yang tepat. Padahal gak juga. Pada dasarnya aku hanya seorang yang sedang diterbangkan ke langit, yang sewaktu-waktu bisa saja dihempaskan kembali ke bumi sekuat tenaga. Yang sudah pasti akan pecah.
Aku benci jika ada orang yang menyakitinya. Seringkali aku mendengar hubungannya sedang kacau, dia disakiti, dia galau, dia sedih, dia badmood dan hal-hal lainnya. Ironisnya, aku hanya mendapat peran disaat-saat seperti itu. Seakan aku ingin hubungannya tidak berjalan baik, seolah aku ingin dia terus disakiti agar dia terus bersandar padaku. Padahal engga. Gak sama sekali. Aku gak pengen jadi antagonis dalam hal ini.
Aku benci situasi seperti ini. Bukan hanya sekali, aku pernah merasakan juga sebelumnya. Dan betapa idiotnya aku, yang gak belajar dari pengalaman. Harusnya aku tidak mencintai seorang yang udah milik orang lain untuk kesekian kalinya. Tapi siapa yang tau, sudah kubilang ini pengharapan yang tidak diharapkan, lebih seperti ketidak sengajaan. Biarpun udah tau resikonya mencintai gadis milik orang lain, tapi tetep aku lakuin dan bertingkah sok kuat dihadapan sang keadaan yang menyebalkan.
Aku benci menunggu. Menunggu itu membosankan, apalagi tanpa kepastian. Halah. Semua orang pasti pernah ngalamin hal semacam ini, kalau belum pernah mungkin orang itu baru lahir 3 hari yang lalu. Emang bener aku ngerasa dia seakan ngasih harapan yang bikin aku pengen terus lari kesana, menarik dan kupegang erat tangannya. Tapi kadang disaat saat seperti ini muncul lah sosok keraguan yang berdiri tegak menantang dan menghalangi jalan ku. Dimana semua seperti memberikan aku tekanan dan aku sangat membutuhkan pelukannya. Dan kenapa aku masih terjebak dalam keadaan seperti ini?
Aku benci ketidak pastian.
Aku benci keraguan.
Dan mungkin masih banyak hal-hal yang aku benci lainnya. Yang membuat ku kelelahan jika harus kujelaskan semua. Sekarang, apa ada orang yang merpertanyakan kalau aku sayang dia? Engga, mereka udah tau. Dan diapun begitu. Kita cuma berada diwaktu yang salah, setelah semua ini, di dalam waktu yang salah, suasana yang salah, pengharapan yang salah, aku masih merasa menyayanginya adalah satu satunya yang benar.
Jadi jangan bilang aku membencinya, karena aku hanya benci dengan keadaannya. Itu saja.