Padahal sakitmu, saya yang ingin redakan, Tapi kamu memilih dia untuk menyempurnakan sakit itu.
Senin, 30 April 2018
No title
Padahal sakitmu, saya yang ingin redakan, Tapi kamu memilih dia untuk menyempurnakan sakit itu.
Jumat, 06 April 2018
Aku Benci
Aku benci jatuh cinta. Jatuh cinta sama orang yang udah memberikan hati jiwa dan raganya untuk orang lain lebih tepatnya. Halahh. Semacam pengharapan yang tidak diharapkan.
Aku benci menulis seperti ini. Menulis tentang hal remeh yang tidak bermanfaat untuk orang lain. Tapi kalau dipikir pikir blog ini emang gak pernah ada yang bermanfaat sih. Udah lama gak ngepost dan berharap sekalinya ngepost lagi bisa posting tulisan dengan tema yang gak melulu tentang cinta. Tapi apa? Lagi-lagi bicara cinta yang sebenarnya aku tidak ingin ceritakan. Tapi akhirnya kutulis juga.
Aku benci memperlihatkan kesedihan. Depresi dan gak tau harus ditumpahkan kemana. Tapi gak bisa ditahan-tahan juga. Mungkin sama aja sih kalau nulis di blog bisa keliatan orang, tapi kan jarang-jarang orang liat blog. Kasarnya tetep aja ini terkesan seperti ngemis perhatian. Tapi jujur, maksudku bukan begitu, hanya ingin menumpahkan aja. Kebetulan aku tidak punya siapapun untuk menjadi tempatku bercerita. Jadi biarlah kutumpahkan disini, nanti tinggal di lap kalau udah tumpah.
Aku benci menjadi aku. Menjadi aku yang gak bisa milikin dia lebih tepatnya. Aku gak nyalahin dia, karena emang dia gak salah. Lebih baik nyalahin diri sendiri, aku udah terbiasa menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku yang terlalu lebay, menganggap berlebihan, merasa bahwa aku datang disaat yang tepat. Padahal gak juga. Pada dasarnya aku hanya seorang yang sedang diterbangkan ke langit, yang sewaktu-waktu bisa saja dihempaskan kembali ke bumi sekuat tenaga. Yang sudah pasti akan pecah.
Aku benci jika ada orang yang menyakitinya. Seringkali aku mendengar hubungannya sedang kacau, dia disakiti, dia galau, dia sedih, dia badmood dan hal-hal lainnya. Ironisnya, aku hanya mendapat peran disaat-saat seperti itu. Seakan aku ingin hubungannya tidak berjalan baik, seolah aku ingin dia terus disakiti agar dia terus bersandar padaku. Padahal engga. Gak sama sekali. Aku gak pengen jadi antagonis dalam hal ini.
Aku benci situasi seperti ini. Bukan hanya sekali, aku pernah merasakan juga sebelumnya. Dan betapa idiotnya aku, yang gak belajar dari pengalaman. Harusnya aku tidak mencintai seorang yang udah milik orang lain untuk kesekian kalinya. Tapi siapa yang tau, sudah kubilang ini pengharapan yang tidak diharapkan, lebih seperti ketidak sengajaan. Biarpun udah tau resikonya mencintai gadis milik orang lain, tapi tetep aku lakuin dan bertingkah sok kuat dihadapan sang keadaan yang menyebalkan.
Aku benci menunggu. Menunggu itu membosankan, apalagi tanpa kepastian. Halah. Semua orang pasti pernah ngalamin hal semacam ini, kalau belum pernah mungkin orang itu baru lahir 3 hari yang lalu. Emang bener aku ngerasa dia seakan ngasih harapan yang bikin aku pengen terus lari kesana, menarik dan kupegang erat tangannya. Tapi kadang disaat saat seperti ini muncul lah sosok keraguan yang berdiri tegak menantang dan menghalangi jalan ku. Dimana semua seperti memberikan aku tekanan dan aku sangat membutuhkan pelukannya. Dan kenapa aku masih terjebak dalam keadaan seperti ini?
Aku benci ketidak pastian.
Aku benci keraguan.
Dan mungkin masih banyak hal-hal yang aku benci lainnya. Yang membuat ku kelelahan jika harus kujelaskan semua. Sekarang, apa ada orang yang merpertanyakan kalau aku sayang dia? Engga, mereka udah tau. Dan diapun begitu. Kita cuma berada diwaktu yang salah, setelah semua ini, di dalam waktu yang salah, suasana yang salah, pengharapan yang salah, aku masih merasa menyayanginya adalah satu satunya yang benar.
Jadi jangan bilang aku membencinya, karena aku hanya benci dengan keadaannya. Itu saja.