Bosan kadang menjadi pembunuhan dalam berusaha, kadang mematikan langkah dengan sensitifitas yang meningkat tinggi. Tapi jujur saja bukan aku bosan, bosan tuk berjuang, bosan tuk berusaha. Tidak sama sekali. Hanya saja aku harus mulai tau diri. Lari mungkin terlihat tepat bagi orang sepertiku yang lupa bahwa akan ada kerusakan diujung jalan.
Cukup aneh memang, seperti aku akan merasa kehilangan yang pada dasarnya aku tidak memiliki. Mungkin aku harus mulai terbiasa, atau membiasakan diri untuk kembali seperti semula. Aku tidak mengingkarinya, aku yakin cara untuk berdamai adalah dengan mengakui dan menyadari keadaannya. Bukan aku ingin, tapi aku harus. Lagi pula hati mana yang cukup kuat melihat orang yang ia sukai, ia kagumi dan ia inginkan justru bahagia bersama orang lain. Memang benar dan aku tidak berbohong jika ku katakan aku ingin selalu melihatmu bahagia, tapi "aku ingin kamu bahagia karena aku" lebih tepatnya.
Sekarang apa yang kamu tunggu telah kembali. Kuharap dia bisa membahagiakanmu dengan sangat, menjagamu dengan pekat, menggenggammu dengan erat, dan sesekali ingat, aku pernah sangat menginginkan ada diposisi itu, dimana dunia seakan-akan tidak mengganggu, hanya kita, aku dan kamu. Jika nanti kita jauh dan kamu sesekali bertanya dalam ragu, apakah aku rindu? Kamu tau jawabannya adalah, selalu.
Aku percaya, salah adalah salah jika kita tidak belajar dari kesalahan. Aku pernah melakukan kesalahan, dan salah besar karena aku mengulanginya sekarang, denganmu. Tapi, sekarang, sedikit banyak aku belajar dan mungkin kamu pun begitu. Aku paham apa yang seharusnya tidak ku lakukan. Sayangnya untuk mempelajari hal-hal itu harus mengorbankan hal paling krusial, yaitu perasaan. Aku mengorbankan perasaan suka yang bahkan sudah tumbuh menjadi rasa sayang dan rasa ingin memiliki. Sementara kamu, mungkin hanya mengorbankan rasa gak enak hati terhadapku, karena tidak ingin aku kecewa. Terlepas dari keinginanmu atau tidak, menurut ku kamu juga berfikir itu harus, agar hubungan kamu dengannya baik-baik saja. Kamu beruntung, kamu hanya kehilangan apa yang tidak kamu pilih. Sedangkan aku, aku kehilangan segala yang selama ini aku perjuangkan, meski tidak banyak tapi itulah yang aku korbankan. ah, sebenarnya tentang perasaanmu aku tidak benar benar tau, hanya mengira-ngira. Tapi setidaknya itulah yang terpikirkan oleh otak kecilku, dan aku akan terus mencoba mengorbankan hal paling krusial itu.
Sebagian orang bilang kalau terkadang kita harus memiliki keberanian untuk melepaskan, dan sebagian lainnya berkata bahwa kita harus punya keberanian untuk terus bertahan. Sebenarnya aku lebih setuju dengan yang kedua. Tapi, ceritanya berbeda, sekali lagi ku katakan, bukan aku ingin, tapi aku harus memilih untuk setuju pada sebagian orang yang kukatakan pertama tadi. Ya, sebagai bentuk sikap bahwa aku cukup tau diri. Jika kamu bukan milik siapapun, dengan tegas akan ku katakan bahwa aku orangnya, yang paling punya keberanian untuk bertahan dan terus memperjuangkan kamu. Tapi aku sadar bahwa kamu memiliki ikatan dan sangat berkomitmen dengan hal itu. Aku menghargainya dan aku harus cukup berani untuk melepaskan keinginanku. Melepaskan perasaanku yang sangat ingin terus bersamamu.
Bulan terlihat cantik malam ini. Oh ya, aku lupa kalau itu tidak terlihat. Karena langit sedang berawan malam ini. Menyebalkan sekali, aku tak menyangka melangkah pergi dengan perasaan yang terbakar, akan menyisakan rasa seburuk ini. Tapi gapapa, aku ngerti. Harapan dan kenyataan kadang berjalan berdampingan menuju arah yang berbeda. Dan diujung pemikiranku tentang cinta, aku pernah berfikir "cinta adalah apa yang membuatmu bahagia" atau "kalau tidak membahagiakan, berarti itu bukan cinta". Tapi menurutku sekarang, indah atau tidak rasa cinta ini, aku masih menamakan rasa ini cinta.
And i know, in the end i had to leave.