Kamis, 14 Maret 2019

Part of Regret

Hey, bagaimana? Sudah berdamai dengan keadaan? Sepertinya sudah. Kulihat kamu sudah semakin baik-baik saja. 

Yang tadinya kamu sangat kekanak-kanakan dan terlalu mendayu-dayu menghadapi bagaimana hubungan kita berakhir, sekarang kulihat tak lagi begitu. Bagus lah. Aku gak pengen kamu terlihat sok bahagia seperti sebelumnya. Aku ingin kamu betul betul bahagia dan berdamai seperti yang kulihat sekarang.

Ironisnya, malah saat ini akulah yang dihantam penyesalan. Dalam benakku timbul pemikiran 'bisakah kita restart perjalanan kita?' Aku mengaku kalah.

Perpisahan kita perlahan-lahan mulai menyakitkan.

Lebih menyakitkan lagi tak lama setelah perpisahan kita, kamu langsung menggantikan posisiku dengan yang lain. Seolah-olah kesalahanku tidak bisa lagi dimaafkan dan aku tidak bisa merebut kembali posisiku yang sebelumnya bertahta dihatimu.

Aku merasa bodoh dalam kebimbangan dan selalu bertanya-tanya apakah jalan yang kupilih sudah benar? Sebenarnya aku sadar, aku salah. Tidak ada yang benar dari melukai perasaan orang lain, terlebih adalah perasaan kamu yang aku hancurkan. Berdosalah aku yang pernah berjanji untuk selalu menjagamu, menjaga perasaanmu, tapi malah ku ingkari. Maaf. Maksudku bukan begitu.

Sekarang, boleh aku jujur? Ketika aku memutuskan untuk kembali menjadi masing-masing dan tidak lagi menjadi 'kita', bukan hanya kamu yang merasakan luka. Asal kamu tau, aku juga terpukul! Sedemikian rupa rasa bersalah serta penyesalan dan perasaan yang gak karuan terus-menerus bercampur aduk dikepalaku. Aku telah memilih keputusan yang salah. Rupanya saat itu aku hanya sedang bosan, mungkin juga aku jenuh dengan keadaanku saat itu. Sedangkan perasaanku tetap sama. Dan sampai saat ini, masih sama.

Harusnya saat itu kubuat kamu mengerti, harusnya saat itu bisa kugambarkan kepadamu tentang betapa rumitnya pikiranku yang sedang teramat sangat jenuh pada saat itu. Harusnya saat itu juga kujelaskan bahwa orang yang suka dengan kesendirian bukan berarti gak punya pasangan, dan orang yang punya pasangan bukan berarti gak pengen punya waktu buat sendirian. Sesimple itu. Mungkin hanya aku yang mengerti. Intinya saat itu aku hanya menjadi seorang yang mempunyai pasangan namun menginginkan waktu untuk sendiri, hanya sedang butuh kesendirian, yang ternyata malah membuatku benar-benar harus kehilanganmu.

Sekarang aku tau, apa yang lebih buruk dari orang yang kehilangan segalanya? Adalah orang yang mengira telah menemukan segalanya. Dan itu aku. Padahal menemukan segalanya hanya sebatas perkiraan. Dan aku belajar bahwa gak semua masalah harus diselesaikan dengan cara-cara besar. Kalau yang gak sesuai hanya lubang kunci, ya jangan diganti pintunya. Harusnya aku berfikir seperti itu dari awal. Dan kesalahan besarku adalah aku memilih untuk selesai daripada memperbaiki.

Mungkin sekarang kamu udah nemuin kebahagiaan kamu yang baru. Yang lebih membahagiakan daripada aku. Yang lebih bisa bikin kamu ketawa, yang bisa lebih pengertian dan ngasih perhatian buat kamu, yang selalu bisa luangin waktunya buat kasih kabar ke kamu. Bukan sepertiku yang lebih sering masabodo kalo lagi asik main atau sibuk dengan aktivitasku diluar sana. Sekarang semua sudah terlanjur dan aku salah melangkah.

Amat sangat lucu ternyata, aku masih sering mengingat-ingat percakapan konyol kita, ucapan-ucapan bolotnya kamu yang sering gak nyambung dan perdebatan gak penting yang gak ada ujungnya cuma karena sama-sama gak mau ngalah, namum membuat kita saling tertawa setelah itu. Konyol memang.

Kalau kamu baca ini, mungkin setelah itu aku hanya akan jadi bahan tertawaanmu. Hatimu akan puas karena keyakinanmu benar bahwa aku akan menyesal dengan keputusanku. Dan.. selamat, kamu benar. Biarlah aku tulis ini dengan mempertaruhkan gengsiku yang cukup besar. Kamu pasti tau itu. Tapi gapapa. Aku udah siap kalau kamu akan menertawakan dalam hatimu. Kamu menang, dan akan selalu menang dihatiku.

Aku merasa masih sedikit beruntung karena perlahan-lahan keadaan mulai membaik. Yang tadinya kamu cuekin aku kaya orang gak kenal dan bikin aku gak bisa ngomong apa-apa ke kamu, sekarang bisa berkomunikasi lagi dengan baik dan bahkan kita bisa ketawa bareng lagi. Tidak lagi ada kecanggungan. Kamu tau? Itu cukup membuatku senang dan sedikit lega.

Sebetulnya aku masih ingin bicara berdua denganmu, banyak hal ingin kuceritakan padamu. Sayangnya sekarang aku merasa dibatasi karena saat ini kamu dimiliki oleh yang lain. Tapi yasudahlah ya..

Jika suatu waktu nanti aku punya kesempatan lain, aku harap aku bisa perbaiki dengan sangat baik meski harus ku mulai dari awal lagi. Jika memang kesempatan tidak berpihak lagi padaku, biarlah. Aku sudah taruh doa terbaik dibalik semua rasa bersalah dan penyesalanku.

Intinya dari semua yang sudah kita lewati, aku cuma mau bilang, maaf!

For anything, i'm so sorry.