Apalagi yang harus kumengerti saat hari ini masih tak jauh lebih berarti. Ditengah malam yang hampa dan tak bersuara, kupikir aku baik-baik saja, nyatanya lubang yang kamu buat belum kutambal dengan sempurna. Oh ya, maaf, aku baru ingat kalau aku sendiri yang membuat lubang tersebut. Kupikir aku hanya butuh tenang, nyatanya tanpamu aku bimbang, tanpamu aku tak seimbang.
Aku ingin menghilangkan penat dengan sekedar menghisap rokok dan duduk berdua, bersamamu. Dikelilingi orang-orang yang entah siapa dan berbicara apa. Dibawah sorotan cahaya bulan dan beberapa lampu jalan, yang hanya sebagian menegaskan sekilas ketika kau mulai menyapa.
Aku ingin melupakan segelintir resah yang menggantung tak karuan didalam otakku. Sadis sekali si resah ini, tidak memberiku jeda untuk berpikir jernih. Tolong gantikan ia dengan tatapan hangatmu yang meyakinkanku untuk bisa menceritakan semua keluh kesah yang mengganggu pikiranku. Atau dengan bibir merah muda yang sesekali tertarik melengkung membentuk sebuah senyum.
Aku ingin membunuh waktu dengan sekedar duduk dihadapanmu. Jika itu nyata, tak perlu lagi aku memikirkan apapun, bahkan apa apa saja yang harus kubahas tidak perlu kupikirkan. Karena berdua denganmu, hal apapun bisa menjadi topik percakapan yang menarik, dan akan ada perdebatan perdebatan kecil yang lucu. Persetan dengan dinginnya udara malam dan gemuruh bisingnya kota Tangerang yang membuatku mulai bosan. Untunglah secangkir milo hangat dan sebatang tembakauku ini sudah membuatku merasa cukup hangat. Jika kau ada, mungkin akan membuatnya lebih hangat lagi dan tak perlulah aku hangatkan dengan anggur merah orang tua ataupun arak. Persetan pula dengan suara bising orang lain, atau suara langkah orang yang menyapa. Suara dan gelak tawamu yang entah bagaimana terdengar renyah ditelingaku, itu sudah cukup untuk meredam semuanya.
Sayangnya, malam ini aku hanya bisa melihatmu dalam ingatanku saja.
Tapi tidak apa-apa, teruslah bermain-main disana, sampai tak ada hal lain yang mengganggu isi kepalaku.
Agar malam ini aku bisa bermesraan,
berdua,
hanya aku dan ingatanku tentangmu.
Aku ingin menghilangkan penat dengan sekedar menghisap rokok dan duduk berdua, bersamamu. Dikelilingi orang-orang yang entah siapa dan berbicara apa. Dibawah sorotan cahaya bulan dan beberapa lampu jalan, yang hanya sebagian menegaskan sekilas ketika kau mulai menyapa.
Aku ingin melupakan segelintir resah yang menggantung tak karuan didalam otakku. Sadis sekali si resah ini, tidak memberiku jeda untuk berpikir jernih. Tolong gantikan ia dengan tatapan hangatmu yang meyakinkanku untuk bisa menceritakan semua keluh kesah yang mengganggu pikiranku. Atau dengan bibir merah muda yang sesekali tertarik melengkung membentuk sebuah senyum.
Aku ingin membunuh waktu dengan sekedar duduk dihadapanmu. Jika itu nyata, tak perlu lagi aku memikirkan apapun, bahkan apa apa saja yang harus kubahas tidak perlu kupikirkan. Karena berdua denganmu, hal apapun bisa menjadi topik percakapan yang menarik, dan akan ada perdebatan perdebatan kecil yang lucu. Persetan dengan dinginnya udara malam dan gemuruh bisingnya kota Tangerang yang membuatku mulai bosan. Untunglah secangkir milo hangat dan sebatang tembakauku ini sudah membuatku merasa cukup hangat. Jika kau ada, mungkin akan membuatnya lebih hangat lagi dan tak perlulah aku hangatkan dengan anggur merah orang tua ataupun arak. Persetan pula dengan suara bising orang lain, atau suara langkah orang yang menyapa. Suara dan gelak tawamu yang entah bagaimana terdengar renyah ditelingaku, itu sudah cukup untuk meredam semuanya.
Sayangnya, malam ini aku hanya bisa melihatmu dalam ingatanku saja.
Tapi tidak apa-apa, teruslah bermain-main disana, sampai tak ada hal lain yang mengganggu isi kepalaku.
Agar malam ini aku bisa bermesraan,
berdua,
hanya aku dan ingatanku tentangmu.