Sabtu, 16 Februari 2019

Aroma

Ketika kopi dan rindu bersekutu, menghalau kantuk dari mataku. Aroma sesak terlarut dalam pekatnya kata demi kata, menemaniku yang melamun dihantam sepi.

Tiba-tiba kenangan muncul bersama aroma kopi dan asap rokok yang mengepul,
Semakin kuhirup, di ingatanku senyummu tersimpul.

Saat hujan bertamu, aroma debu seolah meraba ingatanku, tentang suatu hari, dimana aku pernah begitu deras mencintai seseorang.

Malam punya cerita tentang kita,
Perbincangan paling sunyi,
Gumpalan ampas kopi yang mulai terlihat,
Menyisakan rasa getir pahit ditenggorokan
Aroma hujan yang tersisa,
Juga kelenjar air mataku yang mulai habis terkuras,
Dan menggenang
Karena perpisahan.

Aku menyukai segala hal tentangmu. Namun, aku lebih merindukan saat-saat yang bisa kita nikmati seandainya saja kita bersama.

Entah apa yang ada di otakku setelah mencium aroma yang membuatku teringat segala tentangmu. Hmm..

Hey, apa kabar? Boleh aku rindu?!


Senin, 04 Februari 2019

Pesan Untuk Kamu

Kamu gak tau seberapa banyak aku mikirin kamu sejak malam sampai pagi. aku mencari disisa hujan barusan. mungkin di sela bulirnya masih bisa kutemukan sekeping harapan yang sempat kutitipkan. Apa yang aku cari? Apa yang aku inginkan? Kenapa aku tidak benar-benar tau? Yang kukira api asmara, yang kupikir mampu menghangatkan dalam waktu yang cukup lama, ternyata hanya koyo menempel saja.


Kita tak lama saling kenal, namun begitu cepat aku jatuh. Lagi-lagi cinta yang membuatku jatuh. Sebenarnya apa itu cinta? kalau saja ada wujudnya ingin kupukul si cinta itu. Berani-beraninya dia membuatku jatuh berulang kali.


Baru saja ingin kukatakan "jangan mampir, tapi tinggal". Ternyata tak sempat kukatakan, dan kau sudah enyah entah kemana. Dari awal harusnya aku sadar bahwa kilaumu terlalu terang hingga aku tidak bisa lagi melihat sekitar. Harusnya aku sadar betul bahwa kamu itu indah, tapi begitu tajam. Bolehkah aku sebut kamu mawar? Yang tangkainya memiliki duri dan jika semakin aku genggam erat maka semakin terluka lah aku.


Setelah kupikir-pikir lagi, sebenarnya dari awal aku memang sadar, tapi aku berusaha membuang semua hal buruk yang kupikirkan tentang mu. Dan kamu melakukannya dengan sempurna. Kamu berhasil membuat seolah-olah aku salah berfikir buruk tentangmu. Disanalah aku jatuh, tenggelam dalam kenyamanan.

Lalu apa artinya perkenalan kita?


Apa artinya pertemuan kita?


Jujur saja aku heran, yang seolah-olah kamu nyaman bersamaku, yang seakan-akan kamu menginginkanku, tiba-tiba saja kamu mulai bersikap aneh, seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Atau malah kamu hanya menjadikanku tempat persembunyianmu. Aku tidak benar-benar tau. Padahal tidak apa-apa jika kamu bilang bahwa kamu inginkan yang lain, karena aku cukup tau diri. Kita belum lama saling bersama, mungkin ini memang salahku karena aku tidak bisa memuaskan ekspektasimu berperan sebagai pria yang ada dalam pikiranmu. Aku minta maaf soal itu.


Hey, jika aku ada yang kurang, bilang. Pun jika kamu ingin pamit dan memutuskan untuk pergi, silahkan. Jika kamu tidak menemukan kebahagiaan di sisiku, silahkan carilah tempat lain. Mungkin diriku tak memenuhi standar kebahagiaanmu yang terlampau jauh dari realita hidupku. Katakan saja dengan jujur. Aku lebih menghargai itu. Aku akan bisa menerima jika kamu katakan ingin pergi untuk pria lain yang lebih baik dan lebih menarik dariku. Gapapa. Beneran gapapa. Selama kamu bahagia dengan itu, aku rela-rela saja.


Tapi, jika benar ada yang lain, bolehkah aku berpesan sedikit untukmu?


Hanya untuk memastikan bahwa kamu telah meyakinkan hatimu untuk dia yang kamu pilih. Untuk memastikan kamu gak akan menyesali perbuatan dan keputusanmu. Aku hanya takut, ketertarikanmu pada pria yang sedang kamu sukai saat ini hanya sekadar suka karena melihat sesuatu yang baru dan menurutmu berbeda. Seperti barang baru yang ada di pusat perbelanjaan atau mall mall manapun, terlihat menarik, tapi jika sudah dimiliki dan digunakan beberapa waktu, kau akan bosan dan mulai kembali melirik yang baru. Kuharap kamu gak begitu terus-menerus, karena ada banyak hati yang nantinya akan kamu patahkan.


Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu, Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu. ternyata rindu ini masih untuk kamu. Hingga detik ini aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah, kini sudah menjadi terlanjur. Mungkin hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah. Intinya aku salah.


Sekarang..

Fokus saja dengan bahagiamu. Karena di sini aku masih percaya bahwa bahagia ku bukan cuma kamu.