Aku mungkin bukan manusia terbaik yang ada di bumi. Tapi kamu harus tau, aku pernah mencitaimu dengan cara terbaikku, yang mungkin tidak begitu baik menurutmu. Semampuku berusaha memahami kamu. Tak ada sedikitpun rasa meragukanmu. Hanya saja ternyata kamu tidak memahamiku dan selalu meragukanku.
Apa saja yang kamu perjuangkan selalu aku doakan agar kamu menang. Agar kamu meraih semua yang kamu impikan. Aku ingin kamu bahagia dengan segala yang kukejar. Aku mulai bisa menerima segala sifat dan egomu. Aku tak pernah menuntut banyak hal, selain kamu juga belajar mengerti bahwa cinta bukan urusanku sendiri. Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak berniat melakukan hal yang sama.
Segala kesabaran yang kucoba dalam menghadapi sikapmu menjadi percuma saja. Kamu memilih jalan yang lain. Bukan aku yang benar-benar kamu ingin. Diam-diam, kamu masih berharap menemukan yang terbaik daripada aku. Kamu masih mencari celah untuk memenuhi ambisimu. Sementara, aku hanya menjadi orang yang menemanimu dan selesai.
Terkadang kita mengucapkan "selamat tinggal" hanya untuk mendengar "jangan pergi". Benar begitu bukan? Nyatanya kini aku dan kamu sudah saling memalingkan wajah satu sama lain. Meski kadang, sesekali, aku masih suka menoleh kearahmu.
Sebenarnya, aku masih sangat peduli kepadamu. Hanya saja sudah tidak bisa diperlihatkan lagi.
Aku tau saat ini kamu sangat sibuk mencari bahagiamu. Hingga tak ada waktu sedikitpun untuk berbicara kepadaku. Jika nanti seluruh cahaya surut dari pengelihatanmu, kenanglah aku sebagai malam yang jauh, gelap yang tak lagi menggetarkanmu.
Maafkan aku yang tak bisa memberi kabar sesering yang kau mau. Maaf aku lebih sering membuatmu bersedih dan menangis. Bukan maksudku seperti itu. Sekarang silahkan penuhilah ambisimu untuk mencari yang lebih baik daripada aku.
Tak apa, silahkan saja.
Semoga bahagia,
Untukmu dan untukku.
Untuk kita, yang sudah tidak lagi bersama.
Apa saja yang kamu perjuangkan selalu aku doakan agar kamu menang. Agar kamu meraih semua yang kamu impikan. Aku ingin kamu bahagia dengan segala yang kukejar. Aku mulai bisa menerima segala sifat dan egomu. Aku tak pernah menuntut banyak hal, selain kamu juga belajar mengerti bahwa cinta bukan urusanku sendiri. Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak berniat melakukan hal yang sama.
Segala kesabaran yang kucoba dalam menghadapi sikapmu menjadi percuma saja. Kamu memilih jalan yang lain. Bukan aku yang benar-benar kamu ingin. Diam-diam, kamu masih berharap menemukan yang terbaik daripada aku. Kamu masih mencari celah untuk memenuhi ambisimu. Sementara, aku hanya menjadi orang yang menemanimu dan selesai.
Terkadang kita mengucapkan "selamat tinggal" hanya untuk mendengar "jangan pergi". Benar begitu bukan? Nyatanya kini aku dan kamu sudah saling memalingkan wajah satu sama lain. Meski kadang, sesekali, aku masih suka menoleh kearahmu.
Sebenarnya, aku masih sangat peduli kepadamu. Hanya saja sudah tidak bisa diperlihatkan lagi.
Aku tau saat ini kamu sangat sibuk mencari bahagiamu. Hingga tak ada waktu sedikitpun untuk berbicara kepadaku. Jika nanti seluruh cahaya surut dari pengelihatanmu, kenanglah aku sebagai malam yang jauh, gelap yang tak lagi menggetarkanmu.
Maafkan aku yang tak bisa memberi kabar sesering yang kau mau. Maaf aku lebih sering membuatmu bersedih dan menangis. Bukan maksudku seperti itu. Sekarang silahkan penuhilah ambisimu untuk mencari yang lebih baik daripada aku.
Tak apa, silahkan saja.
Semoga bahagia,
Untukmu dan untukku.
Untuk kita, yang sudah tidak lagi bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar