Minggu, 23 Juni 2019

Yang Terlewatkan

Duniaku ga selalu tentang kamu.
Dunia kamu juga ga selalu tentangku.
Ada masa dan waktu-waktu tertentu saat kita harus menyibukan diri dan bergelut dengan dunia masing-masing.
Mestinya, yang kita lakukan hanya saling percaya dan mengerti.
Karena bagiku yang terbaik ga akan pernah pergi.
Dia bakal tetap tinggal meski keadaannya sangat sulit.
Aku cuma pengen kamu merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja saat bersamaku.

Harusnya pada saat itu aku mengatakan yang seperti itu. Tapi tidak. Egoku pada saat itu masih jauh lebih kuat dan tak memberiku ruang untuk memikirkan kalimat seperti itu. Yang kulakukan malah membiarkanmu mengucap selamat tinggal, yang padahal aku tau betul kamu ingin aku mengucap jangan pergi. Dan kulewatkan begitu saja. Sampai akhirnya, sampai detik ini, kita hanya menjadi dua orang asing yang saling mencari satu sama lain, pada kehilangannya masing-masing.

Aku mengerti, pada perpisahan yang terjadi baik-baik pun, selalu menyisakan hati yang dalam keadaan tidak baik-baik lagi.

Harus berfikir kita tidak sejalan dan kita sulit menyatu, sementara hati ini selalu merindukan waktu-waktu dimana saat kita masih bersama. Kamu fikir itu enak? Padahal kita bisa saja. Memulai kembali berdua, menikmati jatuh cinta berulang kali. Se-simple saling percaya dan mengerti, tapi berat rasanya. Aku tidak begitu yakin dengan apa yang salah? Mungkin keadaan. Mungkin.

Entah lah, aku gugup saat ini. Terlalu banyak ingatanku tentangmu. Sampai tak bisa ku mengucap sepatah katapun. Aku bisa melihatmu dengan jelas, namun seperti ada jarak yang membentang antara kamu dan aku.

Sebenarnya, apa kamu tau bahwa aku ga pernah benar-benar bisa pergi darimu?
Tapi untuk merberitahu itu padamu, aku ga punya keberanian.

Kuharap kamu menyadarinya, bahwa aku ingin
Kuharap dalam diamku bisa kamu lihat walau sekejap
Dan bisa kamu rasa walau sepintas.

Semoga kamu juga tau
Bahwa rasaku tak halu.

Jumat, 14 Juni 2019

Tak apa, Silahkan saja!

Aku mungkin bukan manusia terbaik yang ada di bumi. Tapi kamu harus tau, aku pernah mencitaimu dengan cara terbaikku, yang mungkin tidak begitu baik menurutmu. Semampuku berusaha memahami kamu. Tak ada sedikitpun rasa meragukanmu. Hanya saja ternyata kamu tidak memahamiku dan selalu meragukanku.

Apa saja yang kamu perjuangkan selalu aku doakan agar kamu menang. Agar kamu meraih semua yang kamu impikan. Aku ingin kamu bahagia dengan segala yang kukejar. Aku mulai bisa menerima segala sifat dan egomu. Aku tak pernah menuntut banyak hal, selain kamu juga belajar mengerti bahwa cinta bukan urusanku sendiri. Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak berniat melakukan hal yang sama.

Segala kesabaran yang kucoba dalam menghadapi sikapmu menjadi percuma saja. Kamu memilih jalan yang lain. Bukan aku yang benar-benar kamu ingin. Diam-diam, kamu masih berharap menemukan yang terbaik daripada aku. Kamu masih mencari celah untuk memenuhi ambisimu. Sementara, aku hanya menjadi orang yang menemanimu dan selesai.

Terkadang kita mengucapkan "selamat tinggal" hanya untuk mendengar "jangan pergi". Benar begitu bukan? Nyatanya kini aku dan kamu sudah saling memalingkan wajah satu sama lain. Meski kadang, sesekali, aku masih suka menoleh kearahmu.

Sebenarnya, aku masih sangat peduli kepadamu. Hanya saja sudah tidak bisa diperlihatkan lagi.

Aku tau saat ini kamu sangat sibuk mencari bahagiamu. Hingga tak ada waktu sedikitpun untuk berbicara kepadaku. Jika nanti seluruh cahaya surut dari pengelihatanmu, kenanglah aku sebagai malam yang jauh, gelap yang tak lagi menggetarkanmu.

Maafkan aku yang tak bisa memberi kabar sesering yang kau mau. Maaf aku lebih sering membuatmu bersedih dan menangis. Bukan maksudku seperti itu. Sekarang silahkan penuhilah ambisimu untuk mencari yang lebih baik daripada aku.

Tak apa, silahkan saja.

Semoga bahagia,
Untukmu dan untukku.
Untuk kita, yang sudah tidak lagi bersama.


Kamis, 14 Maret 2019

Part of Regret

Hey, bagaimana? Sudah berdamai dengan keadaan? Sepertinya sudah. Kulihat kamu sudah semakin baik-baik saja. 

Yang tadinya kamu sangat kekanak-kanakan dan terlalu mendayu-dayu menghadapi bagaimana hubungan kita berakhir, sekarang kulihat tak lagi begitu. Bagus lah. Aku gak pengen kamu terlihat sok bahagia seperti sebelumnya. Aku ingin kamu betul betul bahagia dan berdamai seperti yang kulihat sekarang.

Ironisnya, malah saat ini akulah yang dihantam penyesalan. Dalam benakku timbul pemikiran 'bisakah kita restart perjalanan kita?' Aku mengaku kalah.

Perpisahan kita perlahan-lahan mulai menyakitkan.

Lebih menyakitkan lagi tak lama setelah perpisahan kita, kamu langsung menggantikan posisiku dengan yang lain. Seolah-olah kesalahanku tidak bisa lagi dimaafkan dan aku tidak bisa merebut kembali posisiku yang sebelumnya bertahta dihatimu.

Aku merasa bodoh dalam kebimbangan dan selalu bertanya-tanya apakah jalan yang kupilih sudah benar? Sebenarnya aku sadar, aku salah. Tidak ada yang benar dari melukai perasaan orang lain, terlebih adalah perasaan kamu yang aku hancurkan. Berdosalah aku yang pernah berjanji untuk selalu menjagamu, menjaga perasaanmu, tapi malah ku ingkari. Maaf. Maksudku bukan begitu.

Sekarang, boleh aku jujur? Ketika aku memutuskan untuk kembali menjadi masing-masing dan tidak lagi menjadi 'kita', bukan hanya kamu yang merasakan luka. Asal kamu tau, aku juga terpukul! Sedemikian rupa rasa bersalah serta penyesalan dan perasaan yang gak karuan terus-menerus bercampur aduk dikepalaku. Aku telah memilih keputusan yang salah. Rupanya saat itu aku hanya sedang bosan, mungkin juga aku jenuh dengan keadaanku saat itu. Sedangkan perasaanku tetap sama. Dan sampai saat ini, masih sama.

Harusnya saat itu kubuat kamu mengerti, harusnya saat itu bisa kugambarkan kepadamu tentang betapa rumitnya pikiranku yang sedang teramat sangat jenuh pada saat itu. Harusnya saat itu juga kujelaskan bahwa orang yang suka dengan kesendirian bukan berarti gak punya pasangan, dan orang yang punya pasangan bukan berarti gak pengen punya waktu buat sendirian. Sesimple itu. Mungkin hanya aku yang mengerti. Intinya saat itu aku hanya menjadi seorang yang mempunyai pasangan namun menginginkan waktu untuk sendiri, hanya sedang butuh kesendirian, yang ternyata malah membuatku benar-benar harus kehilanganmu.

Sekarang aku tau, apa yang lebih buruk dari orang yang kehilangan segalanya? Adalah orang yang mengira telah menemukan segalanya. Dan itu aku. Padahal menemukan segalanya hanya sebatas perkiraan. Dan aku belajar bahwa gak semua masalah harus diselesaikan dengan cara-cara besar. Kalau yang gak sesuai hanya lubang kunci, ya jangan diganti pintunya. Harusnya aku berfikir seperti itu dari awal. Dan kesalahan besarku adalah aku memilih untuk selesai daripada memperbaiki.

Mungkin sekarang kamu udah nemuin kebahagiaan kamu yang baru. Yang lebih membahagiakan daripada aku. Yang lebih bisa bikin kamu ketawa, yang bisa lebih pengertian dan ngasih perhatian buat kamu, yang selalu bisa luangin waktunya buat kasih kabar ke kamu. Bukan sepertiku yang lebih sering masabodo kalo lagi asik main atau sibuk dengan aktivitasku diluar sana. Sekarang semua sudah terlanjur dan aku salah melangkah.

Amat sangat lucu ternyata, aku masih sering mengingat-ingat percakapan konyol kita, ucapan-ucapan bolotnya kamu yang sering gak nyambung dan perdebatan gak penting yang gak ada ujungnya cuma karena sama-sama gak mau ngalah, namum membuat kita saling tertawa setelah itu. Konyol memang.

Kalau kamu baca ini, mungkin setelah itu aku hanya akan jadi bahan tertawaanmu. Hatimu akan puas karena keyakinanmu benar bahwa aku akan menyesal dengan keputusanku. Dan.. selamat, kamu benar. Biarlah aku tulis ini dengan mempertaruhkan gengsiku yang cukup besar. Kamu pasti tau itu. Tapi gapapa. Aku udah siap kalau kamu akan menertawakan dalam hatimu. Kamu menang, dan akan selalu menang dihatiku.

Aku merasa masih sedikit beruntung karena perlahan-lahan keadaan mulai membaik. Yang tadinya kamu cuekin aku kaya orang gak kenal dan bikin aku gak bisa ngomong apa-apa ke kamu, sekarang bisa berkomunikasi lagi dengan baik dan bahkan kita bisa ketawa bareng lagi. Tidak lagi ada kecanggungan. Kamu tau? Itu cukup membuatku senang dan sedikit lega.

Sebetulnya aku masih ingin bicara berdua denganmu, banyak hal ingin kuceritakan padamu. Sayangnya sekarang aku merasa dibatasi karena saat ini kamu dimiliki oleh yang lain. Tapi yasudahlah ya..

Jika suatu waktu nanti aku punya kesempatan lain, aku harap aku bisa perbaiki dengan sangat baik meski harus ku mulai dari awal lagi. Jika memang kesempatan tidak berpihak lagi padaku, biarlah. Aku sudah taruh doa terbaik dibalik semua rasa bersalah dan penyesalanku.

Intinya dari semua yang sudah kita lewati, aku cuma mau bilang, maaf!

For anything, i'm so sorry.

Sabtu, 16 Februari 2019

Aroma

Ketika kopi dan rindu bersekutu, menghalau kantuk dari mataku. Aroma sesak terlarut dalam pekatnya kata demi kata, menemaniku yang melamun dihantam sepi.

Tiba-tiba kenangan muncul bersama aroma kopi dan asap rokok yang mengepul,
Semakin kuhirup, di ingatanku senyummu tersimpul.

Saat hujan bertamu, aroma debu seolah meraba ingatanku, tentang suatu hari, dimana aku pernah begitu deras mencintai seseorang.

Malam punya cerita tentang kita,
Perbincangan paling sunyi,
Gumpalan ampas kopi yang mulai terlihat,
Menyisakan rasa getir pahit ditenggorokan
Aroma hujan yang tersisa,
Juga kelenjar air mataku yang mulai habis terkuras,
Dan menggenang
Karena perpisahan.

Aku menyukai segala hal tentangmu. Namun, aku lebih merindukan saat-saat yang bisa kita nikmati seandainya saja kita bersama.

Entah apa yang ada di otakku setelah mencium aroma yang membuatku teringat segala tentangmu. Hmm..

Hey, apa kabar? Boleh aku rindu?!


Senin, 04 Februari 2019

Pesan Untuk Kamu

Kamu gak tau seberapa banyak aku mikirin kamu sejak malam sampai pagi. aku mencari disisa hujan barusan. mungkin di sela bulirnya masih bisa kutemukan sekeping harapan yang sempat kutitipkan. Apa yang aku cari? Apa yang aku inginkan? Kenapa aku tidak benar-benar tau? Yang kukira api asmara, yang kupikir mampu menghangatkan dalam waktu yang cukup lama, ternyata hanya koyo menempel saja.


Kita tak lama saling kenal, namun begitu cepat aku jatuh. Lagi-lagi cinta yang membuatku jatuh. Sebenarnya apa itu cinta? kalau saja ada wujudnya ingin kupukul si cinta itu. Berani-beraninya dia membuatku jatuh berulang kali.


Baru saja ingin kukatakan "jangan mampir, tapi tinggal". Ternyata tak sempat kukatakan, dan kau sudah enyah entah kemana. Dari awal harusnya aku sadar bahwa kilaumu terlalu terang hingga aku tidak bisa lagi melihat sekitar. Harusnya aku sadar betul bahwa kamu itu indah, tapi begitu tajam. Bolehkah aku sebut kamu mawar? Yang tangkainya memiliki duri dan jika semakin aku genggam erat maka semakin terluka lah aku.


Setelah kupikir-pikir lagi, sebenarnya dari awal aku memang sadar, tapi aku berusaha membuang semua hal buruk yang kupikirkan tentang mu. Dan kamu melakukannya dengan sempurna. Kamu berhasil membuat seolah-olah aku salah berfikir buruk tentangmu. Disanalah aku jatuh, tenggelam dalam kenyamanan.

Lalu apa artinya perkenalan kita?


Apa artinya pertemuan kita?


Jujur saja aku heran, yang seolah-olah kamu nyaman bersamaku, yang seakan-akan kamu menginginkanku, tiba-tiba saja kamu mulai bersikap aneh, seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Atau malah kamu hanya menjadikanku tempat persembunyianmu. Aku tidak benar-benar tau. Padahal tidak apa-apa jika kamu bilang bahwa kamu inginkan yang lain, karena aku cukup tau diri. Kita belum lama saling bersama, mungkin ini memang salahku karena aku tidak bisa memuaskan ekspektasimu berperan sebagai pria yang ada dalam pikiranmu. Aku minta maaf soal itu.


Hey, jika aku ada yang kurang, bilang. Pun jika kamu ingin pamit dan memutuskan untuk pergi, silahkan. Jika kamu tidak menemukan kebahagiaan di sisiku, silahkan carilah tempat lain. Mungkin diriku tak memenuhi standar kebahagiaanmu yang terlampau jauh dari realita hidupku. Katakan saja dengan jujur. Aku lebih menghargai itu. Aku akan bisa menerima jika kamu katakan ingin pergi untuk pria lain yang lebih baik dan lebih menarik dariku. Gapapa. Beneran gapapa. Selama kamu bahagia dengan itu, aku rela-rela saja.


Tapi, jika benar ada yang lain, bolehkah aku berpesan sedikit untukmu?


Hanya untuk memastikan bahwa kamu telah meyakinkan hatimu untuk dia yang kamu pilih. Untuk memastikan kamu gak akan menyesali perbuatan dan keputusanmu. Aku hanya takut, ketertarikanmu pada pria yang sedang kamu sukai saat ini hanya sekadar suka karena melihat sesuatu yang baru dan menurutmu berbeda. Seperti barang baru yang ada di pusat perbelanjaan atau mall mall manapun, terlihat menarik, tapi jika sudah dimiliki dan digunakan beberapa waktu, kau akan bosan dan mulai kembali melirik yang baru. Kuharap kamu gak begitu terus-menerus, karena ada banyak hati yang nantinya akan kamu patahkan.


Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu, Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu. ternyata rindu ini masih untuk kamu. Hingga detik ini aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah, kini sudah menjadi terlanjur. Mungkin hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah. Intinya aku salah.


Sekarang..

Fokus saja dengan bahagiamu. Karena di sini aku masih percaya bahwa bahagia ku bukan cuma kamu.