Minggu, 05 April 2020

Malam dan Ingatan Tentangmu

Apalagi yang harus kumengerti saat hari ini masih tak jauh lebih berarti. Ditengah malam yang hampa dan tak bersuara, kupikir aku baik-baik saja, nyatanya lubang yang kamu buat belum kutambal dengan sempurna. Oh ya, maaf, aku baru ingat kalau aku sendiri yang membuat lubang tersebut. Kupikir aku hanya butuh tenang, nyatanya tanpamu aku bimbang, tanpamu aku tak seimbang.

Aku ingin menghilangkan penat dengan sekedar menghisap rokok dan duduk berdua, bersamamu. Dikelilingi orang-orang yang entah siapa dan berbicara apa. Dibawah sorotan cahaya bulan dan beberapa lampu jalan, yang hanya sebagian menegaskan sekilas ketika kau mulai menyapa.

Aku ingin melupakan segelintir resah yang menggantung tak karuan didalam otakku. Sadis sekali si resah ini, tidak memberiku jeda untuk berpikir jernih. Tolong gantikan ia dengan tatapan hangatmu yang meyakinkanku untuk bisa menceritakan semua keluh kesah yang mengganggu pikiranku. Atau dengan bibir merah muda yang sesekali tertarik melengkung membentuk sebuah senyum.

Aku ingin membunuh waktu dengan sekedar duduk dihadapanmu. Jika itu nyata, tak perlu lagi aku memikirkan apapun, bahkan apa apa saja yang harus kubahas tidak perlu kupikirkan. Karena berdua denganmu, hal apapun bisa menjadi topik percakapan yang menarik, dan akan ada perdebatan perdebatan kecil yang lucu. Persetan dengan dinginnya udara malam dan gemuruh bisingnya kota Tangerang yang membuatku mulai bosan. Untunglah secangkir milo hangat dan sebatang tembakauku ini sudah membuatku merasa cukup hangat. Jika kau ada, mungkin akan membuatnya lebih hangat lagi dan tak perlulah aku hangatkan dengan anggur merah orang tua ataupun arak. Persetan pula dengan suara bising orang lain, atau suara langkah orang yang menyapa. Suara dan gelak tawamu yang entah bagaimana terdengar renyah ditelingaku, itu sudah cukup untuk meredam semuanya.

Sayangnya, malam ini aku hanya bisa melihatmu dalam ingatanku saja.
Tapi tidak apa-apa, teruslah bermain-main disana, sampai tak ada hal lain yang mengganggu isi kepalaku.
Agar malam ini aku bisa bermesraan,
berdua,
hanya aku dan ingatanku tentangmu.

Rabu, 01 April 2020

Untitled!

Aku tidak tau bagaimana caranya untuk berbincang lagi denganmu, sudah lama sekali memang. Tapi sekarang, disini aku merasa bisa ngobrol lagi denganmu. Tapi ini ga bisa dibilang ngobrol juga sih, tulisanmu, tulisanku, mungkin dalam dunia kata, mereka lagi ngobrol mengatakan apa yang entah ga pernah, atau belum sempat diungkapkan. Setidaknya aku tau apa yang kamu rasakan dan kamu alami ada disitu.

Aku tidak menyalahkanmu jika kamu berusaha membenciku, dan kamu merasa tidak adil karena tuhan membiarkanmu menderita oleh sebuah rasa. Gapapa, beneran gapapa. Dari apa yang kamu alami, mungkin memang akulah yang sudah keterlaluan. Mungkin benar bahwa tuhan sedang mengajarimu untuk menjadi wanita yang lebih kuat. Atau mungkin tuhan pun sedang mengajariku tentang menghargai seseorang, tentang menghargai sebuah hubungan, tentang penyesalan dan kehilangan. Sekarang aku tau apa yang paling berat dari sebuah rasa kehilangan, yaitu saat aku menyadari bahwa aku adalah penyebab semuanya hilang.

Kamu pikir aku mudah menghilangkan rasa dan melupakan semuanya? Kamu pikir tuhan membiarkanku bahagia setelah aku membuat kesalahan? Hei, ayolah, jangan ingin jadi sepertiku, kamu akan lebih menderita nantinya.

Kamu yang paling tau aku, mengerti aku, bagaimana aku menyelesaikan masalah, saat ada hal yang tak sesuai keinginan, obsesi anak kecilku muncul, dan aku selalu sok tenang tenang aja dengan gengsiku yang begitu besar. Hal yang kamu benci tentang aku, aku pun juga membencinya, bahkan lebih darimu.

Bolehkah aku minta tolong padamu? Bisakah kamu tidak berpikir aku sudah sangat mencintai orang lain?! Karena itu membuatku bertanya-tanya, siapa orang yang kau maksud. There is no one that i love, the last is when i'm with you. Dan aku tidak sedang membangun mimpiku bersama siapapun, aku sendirian memperbaiki hidupku. Aku senang jika kamu masih menginginkanku menjadi seorang yang kelak akan duduk disampingmu, karena diam-diam aku selalu berharap ketika aku pergi tak ada seorangpun yang duduk dikursiku, agar aku tau aku masih punya tempat untuk kembali.

Sekarang mungkin akan sangat sulit membuatmu kembali percaya, membuatmu pulih seperti sediakala, tapi aku ingin kamu kembali merasa bersemangat lagi, bersinar lagi, entah bagaimana caranya. Kamu hilang arah, akupun kacau. Aku hanya lemah ketika hati dan pikiran sedang berperang. Tapi sampai kapan aku harus bertahan dengan semua hal ini, makan gengsi ga akan kenyang, dan aku hanya tau menulis seperti ini.

Asal kamu tau, sebelum kita selesai waktu itu, dalam keadaan emosi saat itu pun aku sudah tau, ini akan jadi hal yang berat. Bagaimana dunia kita yang akan tiba-tiba terpisah, yang dalam pikiran bodohku ini, kupikir dapat kulewati. Ternyata tidak. Bahkan aku terus mundur untuk memperhatikan, mengingat apa yang telah kita lalui, mengingat apa yang telah kita rencanakan. Aku salah, dan aku minta maaf karena sebodoh itu, menghancurkan apa yang telah kita sepakati untuk kita sebut kebahagiaan.

Aku tulis ini bukan untuk mengemis perhatian, toh ga akan merubah semuanya, semua sudah terjadi dan aku yang membuat kamu menjadi sebegitunya. Rasa sayangmu yang membuatmu menjagaku. Semua trauma mu, semua rasa sakitmu yang sudah aku berikan, semua kesempatan kedua yang sudah kamu berikan, itu yang membuatku mengerti, aku diluluhkan oleh apa yang kita sebut rasa. Aku cuma ingin kamu tau, aku masih seperti dulu.

Jika memang kamu belum benar-benar pergi, tolong, jangan pergi dulu, jangan pernah benar-benar pergi. kumohon jangan. Tolong ajari aku sekali lagi untuk saling melengkapi, sekali lagi! biar aku yang berusaha melengkapimu.

Kamu sudah cukup, kamu tidak kurang.
Aku tidak mencari yang terbaik, karena aku sudah menemukannya, dalam wujud kamu.
Langitkan bahagiaku denganmu.
dan satu hal lagi..


Aku meng-aminkan saat kamu merayu tuhan untuk menuntun jalanku.
Karena disini aku juga sedang merayu tuhan untuk menuntunku, menjadi lebih baik,

dan menuntunku kembali kepadamu.

Rabu, 25 Maret 2020

MAAF 19 NOVEMBER

Mengintip sedikit kisahmu. Yang tentu saja aku juga bersedih. Merasa bersalah lebih tepatnya, bahkan sangat. Kamu mudah terluka, aku tau. Maaf sudah membuat kamu merasa telah salah mempercayai orang sepertiku. Dan yang aku sesali adalah sampai kamu merasa bahwa kamu sebodoh itu. Hei, tidak seperti itu. Disini biar aku yang luruskan. Kalau ada yang harus disebut bodoh, percayalah, itu aku. Bagaimana tidak, aku telah dicintai dengan tulus yang bahkan seperti kamu lebih mencintaiku dibanding dirimu sendiri. Tapi malah ku sia-siakan, kukecewakan, kuhancurkan harapanmu dan pergi entah kemana. Yang bahkan akupun tidak benar-benar tau akan kemana. Oh ya, tentang keputusanku yang kamu bilang itu terbaik untukku, kamu salah, ini tidak baik. Dan menurutmu aku bahagia dengan keputusanku? itu juga tidak. Asal kamu tau, dalam hal apapun, aku selalu payah dalam mengambil keputusan.

Sekarang kamu sedang berusaha melawan perasaanmu untuk melupakanku, berusaha merelakan aku pergi. Meskipun itu terdengar menyakitkan, tapi aku memaklumi itu semua. Sudah sewajarnya kamu melakukan itu untuk orang yang tidak tepat untukmu. Yang harus kamu tau, saat itu aku tidak berbohong kalau aku ingin serius. Kamu ga perlu berusaha keras untuk selalu menjadi orang yang aku impikan, karena kamu memang yang aku inginkan. Hanya saja tindakan dan apa yang kulakukan saat itu tidak menunjukan bahwa itu semua benar adanya. Dan tentang aku yang merasa terbebani, bukan aku merasa terbebani olehmu. Bukan kamu yang menjadi bebanku tapi keadaanku saat itu benar-benar tidak memberiku ruang untuk berfikir bagaimana caranya memperbaiki hubungan kita. Dan lagi-lagi aku kesulitan untuk mejelaskan apa yang aku rasakan saat itu, yang pada akhirnya aku membuat keputusan yang salah untuk ribuan kalinya.

Terima kasih untuk saat itu kamu sudah bersedia mempertahankan sejauh itu.

Padahal itu adalah kesempatan kedua yang aku dapatkan, harusnya aku belajar dari yang pertama. Sudah kubilang disini aku lah yang bodoh, yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Mungkin Egoku masih terlalu besar, atau aku terlalu naif. Tentang pertanyaan "masih kurangkah kamu dimataku?" biar kujawab juga. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu sudah berjuang untukku, menjaga perasaanku, mempertahankan hubungan kita, mempertahankan semuanya. Kamu sudah melakukan lebih, jauh lebih baik dari apa yang aku lakukan. Dan aku terlambat menyadarinya. HaHa, bodoh sekali. Kalau kamu tanya masih adakah yang kurang?, itu adalah aku. Aku yang kurang mengerti dan menghargai kamu. Maaf.

Kamu tidak pernah salah menilaiku, karena aku sendirilah yang membuat apa yang kamu fikirkan tentangku menjadi benar. Kamu tau semuanya, tapi hanya sebatas "semuanya" bukan "sebenarnya". Kamu tidak benar-benar tau yang sebenarnya. Aku juga sering kali bertanya kepada diriku sendiri, kenapa orang yang menyayangiku, orang yang sepenuhnya mempercayaiku, orang yang sangat takut akan kehilangan diriku, justru malah kubuat kecewa? why? why i do that to someone i love. Damn!
Sekarang, setelah semua yang berlalu, dan kamu mulai mengikhlaskan, aku malah terfikirkan andai saja aku punya mesin waktu. Tak perlu kujelaskan untuk apa. Tapi yasudahlah. Kuharap meski sekarang kita jauh, kamu tidak membenciku. Walaupun harus kuakui itu wajar saja jika kamu ingin benci. Tapi kuharap tidak. Karena aku yakin kamu pasti sudah semakin dewasa.

Dan untuk satu tahun 19harinya.. Eh, maaf itu kalimat kamu haha. Aku udah kunjungin laman blog kamu. Bagus. I like your content, you make it very well. Sekarang kamu udah ga lagi nulis diary di note book kecil kamu seperti catatan belanja ibu-ibu. hahaha gapapa tapi itu keren. Sekarang disini, seperti judulnya, yang kucuri dari judul kamu. Eh engga deng, aku ubah sedikit. So, for everything we've been through, i'm so sorry. Maaf untuk "Luka 19 November" kamu.
Maaf aku pernah berjanji memperbaiki, tapi kuingkari.
Maaf aku bilang ingin berubah, tapi tidak kubuktikan.
Maaf aku membuatmu percaya lagi, tapi kuhancurkan.
Maaf sudah membiarkan kita kini hanya menjadi kenangan. Aku mengerti, mungkin ucapan maaf bertubi-tubi pun tak akan ada artinya untukmu dan terdengar seperti basa-basi.

Untukmu seseorang yang tidak pernah bisa kulupakan, semoga bahagia dimanapun kamu berada. Doa untukmu dari orang yang sudah tidak lagi istimewa :)

Senin, 09 Maret 2020

Dewasa, Tidak Luar Biasa!

Aku tidak tau apa yang salah dengan yang kujalani saat kuberanjak pergi dari masa kecilku kearah remaja dan menuju dewasa. Mungkin banyak kesalahan yang tanpa sadar sudah kulakukan dan aku tidak terlalu mempedulikannya. Aku membuat banyak keputusan yang salah. Untuk hal itu, apakah harus kumaklumi karena saat itu aku hanya seorang remaja setengah matang? yang aku fikirkan saat itu adalah hidup ini hanyalah rangkaian pesta dan kegembiraan. Seperti itulah masa remajaku. Cukup menyenangkan, hanya saja ada yang kusesali setelahnya.

Ini mulai tidak adil karena segala apa yang menyenangkan di masa kecilku tak ada yang membuatku menyesal.

Aku berfikir jalanku masih panjang dan mencoba mendewasakan diri. Tapi saat itu justru kehidupan malah seperti menamparku dengan begitu keras dan hebatnya. Yang tadinya hidupku seperti rangkaian pesta dan kegembiraan, menjadi rentetan kekacauan dan masalah. Kadang aku resah, gelisah, bahkan marah. Tapi semampu yang aku bisa, aku mencoba tetap terlihat santai dimanapun aku berada. Ketika aku sendiri, aku hanya bisa merenungi sambil tertawa kecil dan bergumam dalam hati "tuhan pasti benci manusia yang banyak berbuat dosa. Haha, terima saja. Mungkin ini hukumannya!".

Kukira aku masih lebih baik karena dibalik semua kekacauan yang berkecamuk di kepalaku, aku masih memiliki kehangatan dirumah, tempatku bersembunyi dari kebangsatan dunia yang menghantamku. Dari segala apa yang kurasa tidak baik-baik saja diluar sana, aku masih merasa aku baik-baik saja jika aku berada di rumah, bersama keluargaku. Sampai akhirnya aku merasa bahkan rumahku tak ada lagi kehangatan.

Apa-apaan ini? Kenapa semuanya semakin kacau?!

Mungkin sudah banyak yang merasakan sebelumnya, beberapa orang yang kukenal dan bahkan ada dari teman terdekatku yang juga sudah mengalami betapa menyebalkan berada ditengah-tengah keluarga yang sudah tidak harmonis. 

Betapa bising telingaku ketika hampir setiap hari mendengar pertengkaran kedua orang tua. Dan apa kalian tau rasanya terbangun dari tidur karena mendengar gaduh caci maki? diiringi dengan suara gelas atau piring yang pecah. Entahlah, aku tidak memperhatikan. Yang jelas dan masih tergambar di kepalaku adalah saat aku mendengar itu semua, aku langsung beranjak dari tempat tidurku, lari kearah kedua orang tuaku yang hampir saling pukul, atau mungkin sudah terjadi sebelum aku datangi mereka. Menurutku itu bukan cara yang baik untuk membangunkan anak yang sedang tidur. Meski aku berhasil melerai perkelahian mereka, namun itupun dengan amarah yang hampir tak bisa kutahan. Hampir kupukul ayahku. Aku lebih memilih menenangkan ibuku yang menangis, terlihat matanya menatap tajam penuh kebencian kearah ayahku dan kudengar ucapan yang mengatakan ia tak akan memaafkannya. Oh ya, ini tidak seharusnya kuceritakan, tapi yasudahlah.

Aku mengerti setiap orang memiliki masalah di hidupnya masing-masing. Mungkin ini terdengar murahan, tapi menurutku tidak apa-apa, sesekali memamerkan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. It's hard, just make it all looks like normal.

Apakah ini namanya menjadi dewasa? Ini memang luar biasa. Tapi bukan yang seperti ini yang kumaksud. Kuharap aku bisa memperbaiki semuanya, Aku ingin hidupku bisa menjadi lebih baik.

Dulu aku tidak harus pusing karena urusan pekerjaan.
Dulu aku tidak harus menjadi bodoh karena urusan cinta.
Dulu keluargaku baik-baik saja, aku suka dimarahi ketika aku main tak ingat waktu.
Sekarang aku harus jatuh bangun karena pekerjaan.
Sekarang aku sangat terganggu karena percintaan.
Sekarang aku main kemanapun, bahkan tidak pulang, tak ada yang mempedulikan.

Aku ingin kembali ke masa kecilku. Aku ingin mengitari perumahan dengan sepeda. Aku ingin bermandi hujan dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Aku ingin menghabiskan setiap minggu pagiku dengan menonton kartun kesukaan. Aku ingin menghabiskan setiap soreku bermain bola di lapangan dengan teman-teman kecilku sampai berakhir ketika kami mendengar suara adzan maghrib.

Aku ingin main kelereng lagi.
Aku ingin main kartu bergambar lagi.
Aku ingin main tamiya lagi.
Aku ingin main gangsing lagi.
Aku ingin main tajos, yoyo, petasan, petak umpet, batu tujuh, polisi maling, taplak gunung dan semua permainan yang dulu terasa begitu menyenangkan. Bukan seperti sekarang ini yang segala sesuatunya terlalu rumit dan sangat mengganggu isi kepalaku.

Saat itu aku pernah bertanya, "kapan aku dewasa?"
Aku berfikir, "ingin jadi apa aku ketika dewasa nanti?"
Dan pernah tidak sabar menantikan, aku ingin segera dewasa.
Karena menurutku menjadi dewasa itu luar biasa.

Dan sekarang umurku sudah 24 tahun, hampir menginjak angka 25. Aku masih bertanya, "apakah aku sudah dewasa?". Aku merasa belum menjadi apa-apa, hidupku tidak luar biasa.

Dan saat ini, andai bisa..
Aku sangat ingin kembali ke masa kecilku.