Mengintip sedikit kisahmu. Yang tentu saja aku juga bersedih. Merasa bersalah lebih tepatnya, bahkan sangat. Kamu mudah terluka, aku tau. Maaf sudah membuat kamu merasa telah salah mempercayai orang sepertiku. Dan yang aku sesali adalah sampai kamu merasa bahwa kamu sebodoh itu. Hei, tidak seperti itu. Disini biar aku yang luruskan. Kalau ada yang harus disebut bodoh, percayalah, itu aku. Bagaimana tidak, aku telah dicintai dengan tulus yang bahkan seperti kamu lebih mencintaiku dibanding dirimu sendiri. Tapi malah ku sia-siakan, kukecewakan, kuhancurkan harapanmu dan pergi entah kemana. Yang bahkan akupun tidak benar-benar tau akan kemana. Oh ya, tentang keputusanku yang kamu bilang itu terbaik untukku, kamu salah, ini tidak baik. Dan menurutmu aku bahagia dengan keputusanku? itu juga tidak. Asal kamu tau, dalam hal apapun, aku selalu payah dalam mengambil keputusan.
Sekarang kamu sedang berusaha melawan perasaanmu untuk melupakanku, berusaha merelakan aku pergi. Meskipun itu terdengar menyakitkan, tapi aku memaklumi itu semua. Sudah sewajarnya kamu melakukan itu untuk orang yang tidak tepat untukmu. Yang harus kamu tau, saat itu aku tidak berbohong kalau aku ingin serius. Kamu ga perlu berusaha keras untuk selalu menjadi orang yang aku impikan, karena kamu memang yang aku inginkan. Hanya saja tindakan dan apa yang kulakukan saat itu tidak menunjukan bahwa itu semua benar adanya. Dan tentang aku yang merasa terbebani, bukan aku merasa terbebani olehmu. Bukan kamu yang menjadi bebanku tapi keadaanku saat itu benar-benar tidak memberiku ruang untuk berfikir bagaimana caranya memperbaiki hubungan kita. Dan lagi-lagi aku kesulitan untuk mejelaskan apa yang aku rasakan saat itu, yang pada akhirnya aku membuat keputusan yang salah untuk ribuan kalinya.
Terima kasih untuk saat itu kamu sudah bersedia mempertahankan sejauh itu.
Padahal itu adalah kesempatan kedua yang aku dapatkan, harusnya aku belajar dari yang pertama. Sudah kubilang disini aku lah yang bodoh, yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Mungkin Egoku masih terlalu besar, atau aku terlalu naif. Tentang pertanyaan "masih kurangkah kamu dimataku?" biar kujawab juga. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu sudah berjuang untukku, menjaga perasaanku, mempertahankan hubungan kita, mempertahankan semuanya. Kamu sudah melakukan lebih, jauh lebih baik dari apa yang aku lakukan. Dan aku terlambat menyadarinya. HaHa, bodoh sekali. Kalau kamu tanya masih adakah yang kurang?, itu adalah aku. Aku yang kurang mengerti dan menghargai kamu. Maaf.
Kamu tidak pernah salah menilaiku, karena aku sendirilah yang membuat apa yang kamu fikirkan tentangku menjadi benar. Kamu tau semuanya, tapi hanya sebatas "semuanya" bukan "sebenarnya". Kamu tidak benar-benar tau yang sebenarnya. Aku juga sering kali bertanya kepada diriku sendiri, kenapa orang yang menyayangiku, orang yang sepenuhnya mempercayaiku, orang yang sangat takut akan kehilangan diriku, justru malah kubuat kecewa? why? why i do that to someone i love. Damn!
Sekarang, setelah semua yang berlalu, dan kamu mulai mengikhlaskan, aku malah terfikirkan andai saja aku punya mesin waktu. Tak perlu kujelaskan untuk apa. Tapi yasudahlah. Kuharap meski sekarang kita jauh, kamu tidak membenciku. Walaupun harus kuakui itu wajar saja jika kamu ingin benci. Tapi kuharap tidak. Karena aku yakin kamu pasti sudah semakin dewasa.
Dan untuk satu tahun 19harinya.. Eh, maaf itu kalimat kamu haha. Aku udah kunjungin laman blog kamu. Bagus. I like your content, you make it very well. Sekarang kamu udah ga lagi nulis diary di note book kecil kamu seperti catatan belanja ibu-ibu. hahaha gapapa tapi itu keren. Sekarang disini, seperti judulnya, yang kucuri dari judul kamu. Eh engga deng, aku ubah sedikit. So, for everything we've been through, i'm so sorry. Maaf untuk "Luka 19 November" kamu.
Maaf aku pernah berjanji memperbaiki, tapi kuingkari.
Maaf aku bilang ingin berubah, tapi tidak kubuktikan.
Maaf aku membuatmu percaya lagi, tapi kuhancurkan.
Maaf sudah membiarkan kita kini hanya menjadi kenangan. Aku mengerti, mungkin ucapan maaf bertubi-tubi pun tak akan ada artinya untukmu dan terdengar seperti basa-basi.
Untukmu seseorang yang tidak pernah bisa kulupakan, semoga bahagia dimanapun kamu berada. Doa untukmu dari orang yang sudah tidak lagi istimewa :)
Sekarang kamu sedang berusaha melawan perasaanmu untuk melupakanku, berusaha merelakan aku pergi. Meskipun itu terdengar menyakitkan, tapi aku memaklumi itu semua. Sudah sewajarnya kamu melakukan itu untuk orang yang tidak tepat untukmu. Yang harus kamu tau, saat itu aku tidak berbohong kalau aku ingin serius. Kamu ga perlu berusaha keras untuk selalu menjadi orang yang aku impikan, karena kamu memang yang aku inginkan. Hanya saja tindakan dan apa yang kulakukan saat itu tidak menunjukan bahwa itu semua benar adanya. Dan tentang aku yang merasa terbebani, bukan aku merasa terbebani olehmu. Bukan kamu yang menjadi bebanku tapi keadaanku saat itu benar-benar tidak memberiku ruang untuk berfikir bagaimana caranya memperbaiki hubungan kita. Dan lagi-lagi aku kesulitan untuk mejelaskan apa yang aku rasakan saat itu, yang pada akhirnya aku membuat keputusan yang salah untuk ribuan kalinya.
Terima kasih untuk saat itu kamu sudah bersedia mempertahankan sejauh itu.
Padahal itu adalah kesempatan kedua yang aku dapatkan, harusnya aku belajar dari yang pertama. Sudah kubilang disini aku lah yang bodoh, yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Mungkin Egoku masih terlalu besar, atau aku terlalu naif. Tentang pertanyaan "masih kurangkah kamu dimataku?" biar kujawab juga. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu sudah berjuang untukku, menjaga perasaanku, mempertahankan hubungan kita, mempertahankan semuanya. Kamu sudah melakukan lebih, jauh lebih baik dari apa yang aku lakukan. Dan aku terlambat menyadarinya. HaHa, bodoh sekali. Kalau kamu tanya masih adakah yang kurang?, itu adalah aku. Aku yang kurang mengerti dan menghargai kamu. Maaf.
Kamu tidak pernah salah menilaiku, karena aku sendirilah yang membuat apa yang kamu fikirkan tentangku menjadi benar. Kamu tau semuanya, tapi hanya sebatas "semuanya" bukan "sebenarnya". Kamu tidak benar-benar tau yang sebenarnya. Aku juga sering kali bertanya kepada diriku sendiri, kenapa orang yang menyayangiku, orang yang sepenuhnya mempercayaiku, orang yang sangat takut akan kehilangan diriku, justru malah kubuat kecewa? why? why i do that to someone i love. Damn!
Sekarang, setelah semua yang berlalu, dan kamu mulai mengikhlaskan, aku malah terfikirkan andai saja aku punya mesin waktu. Tak perlu kujelaskan untuk apa. Tapi yasudahlah. Kuharap meski sekarang kita jauh, kamu tidak membenciku. Walaupun harus kuakui itu wajar saja jika kamu ingin benci. Tapi kuharap tidak. Karena aku yakin kamu pasti sudah semakin dewasa.
Dan untuk satu tahun 19harinya.. Eh, maaf itu kalimat kamu haha. Aku udah kunjungin laman blog kamu. Bagus. I like your content, you make it very well. Sekarang kamu udah ga lagi nulis diary di note book kecil kamu seperti catatan belanja ibu-ibu. hahaha gapapa tapi itu keren. Sekarang disini, seperti judulnya, yang kucuri dari judul kamu. Eh engga deng, aku ubah sedikit. So, for everything we've been through, i'm so sorry. Maaf untuk "Luka 19 November" kamu.
Maaf aku pernah berjanji memperbaiki, tapi kuingkari.
Maaf aku bilang ingin berubah, tapi tidak kubuktikan.
Maaf aku membuatmu percaya lagi, tapi kuhancurkan.
Maaf sudah membiarkan kita kini hanya menjadi kenangan. Aku mengerti, mungkin ucapan maaf bertubi-tubi pun tak akan ada artinya untukmu dan terdengar seperti basa-basi.
Untukmu seseorang yang tidak pernah bisa kulupakan, semoga bahagia dimanapun kamu berada. Doa untukmu dari orang yang sudah tidak lagi istimewa :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar