Aku tidak tau apa yang salah dengan yang kujalani saat kuberanjak pergi dari masa kecilku kearah remaja dan menuju dewasa. Mungkin banyak kesalahan yang tanpa sadar sudah kulakukan dan aku tidak terlalu mempedulikannya. Aku membuat banyak keputusan yang salah. Untuk hal itu, apakah harus kumaklumi karena saat itu aku hanya seorang remaja setengah matang? yang aku fikirkan saat itu adalah hidup ini hanyalah rangkaian pesta dan kegembiraan. Seperti itulah masa remajaku. Cukup menyenangkan, hanya saja ada yang kusesali setelahnya.
Ini mulai tidak adil karena segala apa yang menyenangkan di masa kecilku tak ada yang membuatku menyesal.
Aku berfikir jalanku masih panjang dan mencoba mendewasakan diri. Tapi saat itu justru kehidupan malah seperti menamparku dengan begitu keras dan hebatnya. Yang tadinya hidupku seperti rangkaian pesta dan kegembiraan, menjadi rentetan kekacauan dan masalah. Kadang aku resah, gelisah, bahkan marah. Tapi semampu yang aku bisa, aku mencoba tetap terlihat santai dimanapun aku berada. Ketika aku sendiri, aku hanya bisa merenungi sambil tertawa kecil dan bergumam dalam hati "tuhan pasti benci manusia yang banyak berbuat dosa. Haha, terima saja. Mungkin ini hukumannya!".
Kukira aku masih lebih baik karena dibalik semua kekacauan yang berkecamuk di kepalaku, aku masih memiliki kehangatan dirumah, tempatku bersembunyi dari kebangsatan dunia yang menghantamku. Dari segala apa yang kurasa tidak baik-baik saja diluar sana, aku masih merasa aku baik-baik saja jika aku berada di rumah, bersama keluargaku. Sampai akhirnya aku merasa bahkan rumahku tak ada lagi kehangatan.
Apa-apaan ini? Kenapa semuanya semakin kacau?!
Mungkin sudah banyak yang merasakan sebelumnya, beberapa orang yang kukenal dan bahkan ada dari teman terdekatku yang juga sudah mengalami betapa menyebalkan berada ditengah-tengah keluarga yang sudah tidak harmonis.
Betapa bising telingaku ketika hampir setiap hari mendengar pertengkaran kedua orang tua. Dan apa kalian tau rasanya terbangun dari tidur karena mendengar gaduh caci maki? diiringi dengan suara gelas atau piring yang pecah. Entahlah, aku tidak memperhatikan. Yang jelas dan masih tergambar di kepalaku adalah saat aku mendengar itu semua, aku langsung beranjak dari tempat tidurku, lari kearah kedua orang tuaku yang hampir saling pukul, atau mungkin sudah terjadi sebelum aku datangi mereka. Menurutku itu bukan cara yang baik untuk membangunkan anak yang sedang tidur. Meski aku berhasil melerai perkelahian mereka, namun itupun dengan amarah yang hampir tak bisa kutahan. Hampir kupukul ayahku. Aku lebih memilih menenangkan ibuku yang menangis, terlihat matanya menatap tajam penuh kebencian kearah ayahku dan kudengar ucapan yang mengatakan ia tak akan memaafkannya. Oh ya, ini tidak seharusnya kuceritakan, tapi yasudahlah.
Aku mengerti setiap orang memiliki masalah di hidupnya masing-masing. Mungkin ini terdengar murahan, tapi menurutku tidak apa-apa, sesekali memamerkan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. It's hard, just make it all looks like normal.
Apakah ini namanya menjadi dewasa? Ini memang luar biasa. Tapi bukan yang seperti ini yang kumaksud. Kuharap aku bisa memperbaiki semuanya, Aku ingin hidupku bisa menjadi lebih baik.
Dulu aku tidak harus pusing karena urusan pekerjaan.
Dulu aku tidak harus menjadi bodoh karena urusan cinta.
Dulu keluargaku baik-baik saja, aku suka dimarahi ketika aku main tak ingat waktu.
Sekarang aku harus jatuh bangun karena pekerjaan.
Sekarang aku sangat terganggu karena percintaan.
Sekarang aku main kemanapun, bahkan tidak pulang, tak ada yang mempedulikan.
Aku ingin kembali ke masa kecilku. Aku ingin mengitari perumahan dengan sepeda. Aku ingin bermandi hujan dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Aku ingin menghabiskan setiap minggu pagiku dengan menonton kartun kesukaan. Aku ingin menghabiskan setiap soreku bermain bola di lapangan dengan teman-teman kecilku sampai berakhir ketika kami mendengar suara adzan maghrib.
Aku ingin main kelereng lagi.
Aku ingin main kartu bergambar lagi.
Aku ingin main tamiya lagi.
Aku ingin main gangsing lagi.
Aku ingin main tajos, yoyo, petasan, petak umpet, batu tujuh, polisi maling, taplak gunung dan semua permainan yang dulu terasa begitu menyenangkan. Bukan seperti sekarang ini yang segala sesuatunya terlalu rumit dan sangat mengganggu isi kepalaku.
Saat itu aku pernah bertanya, "kapan aku dewasa?"
Aku berfikir, "ingin jadi apa aku ketika dewasa nanti?"
Dan pernah tidak sabar menantikan, aku ingin segera dewasa.
Karena menurutku menjadi dewasa itu luar biasa.
Dan sekarang umurku sudah 24 tahun, hampir menginjak angka 25. Aku masih bertanya, "apakah aku sudah dewasa?". Aku merasa belum menjadi apa-apa, hidupku tidak luar biasa.
Dan saat ini, andai bisa..
Aku sangat ingin kembali ke masa kecilku.
Ini mulai tidak adil karena segala apa yang menyenangkan di masa kecilku tak ada yang membuatku menyesal.
Aku berfikir jalanku masih panjang dan mencoba mendewasakan diri. Tapi saat itu justru kehidupan malah seperti menamparku dengan begitu keras dan hebatnya. Yang tadinya hidupku seperti rangkaian pesta dan kegembiraan, menjadi rentetan kekacauan dan masalah. Kadang aku resah, gelisah, bahkan marah. Tapi semampu yang aku bisa, aku mencoba tetap terlihat santai dimanapun aku berada. Ketika aku sendiri, aku hanya bisa merenungi sambil tertawa kecil dan bergumam dalam hati "tuhan pasti benci manusia yang banyak berbuat dosa. Haha, terima saja. Mungkin ini hukumannya!".
Kukira aku masih lebih baik karena dibalik semua kekacauan yang berkecamuk di kepalaku, aku masih memiliki kehangatan dirumah, tempatku bersembunyi dari kebangsatan dunia yang menghantamku. Dari segala apa yang kurasa tidak baik-baik saja diluar sana, aku masih merasa aku baik-baik saja jika aku berada di rumah, bersama keluargaku. Sampai akhirnya aku merasa bahkan rumahku tak ada lagi kehangatan.
Apa-apaan ini? Kenapa semuanya semakin kacau?!
Mungkin sudah banyak yang merasakan sebelumnya, beberapa orang yang kukenal dan bahkan ada dari teman terdekatku yang juga sudah mengalami betapa menyebalkan berada ditengah-tengah keluarga yang sudah tidak harmonis.
Betapa bising telingaku ketika hampir setiap hari mendengar pertengkaran kedua orang tua. Dan apa kalian tau rasanya terbangun dari tidur karena mendengar gaduh caci maki? diiringi dengan suara gelas atau piring yang pecah. Entahlah, aku tidak memperhatikan. Yang jelas dan masih tergambar di kepalaku adalah saat aku mendengar itu semua, aku langsung beranjak dari tempat tidurku, lari kearah kedua orang tuaku yang hampir saling pukul, atau mungkin sudah terjadi sebelum aku datangi mereka. Menurutku itu bukan cara yang baik untuk membangunkan anak yang sedang tidur. Meski aku berhasil melerai perkelahian mereka, namun itupun dengan amarah yang hampir tak bisa kutahan. Hampir kupukul ayahku. Aku lebih memilih menenangkan ibuku yang menangis, terlihat matanya menatap tajam penuh kebencian kearah ayahku dan kudengar ucapan yang mengatakan ia tak akan memaafkannya. Oh ya, ini tidak seharusnya kuceritakan, tapi yasudahlah.
Aku mengerti setiap orang memiliki masalah di hidupnya masing-masing. Mungkin ini terdengar murahan, tapi menurutku tidak apa-apa, sesekali memamerkan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. It's hard, just make it all looks like normal.
Apakah ini namanya menjadi dewasa? Ini memang luar biasa. Tapi bukan yang seperti ini yang kumaksud. Kuharap aku bisa memperbaiki semuanya, Aku ingin hidupku bisa menjadi lebih baik.
Dulu aku tidak harus pusing karena urusan pekerjaan.
Dulu aku tidak harus menjadi bodoh karena urusan cinta.
Dulu keluargaku baik-baik saja, aku suka dimarahi ketika aku main tak ingat waktu.
Sekarang aku harus jatuh bangun karena pekerjaan.
Sekarang aku sangat terganggu karena percintaan.
Sekarang aku main kemanapun, bahkan tidak pulang, tak ada yang mempedulikan.
Aku ingin kembali ke masa kecilku. Aku ingin mengitari perumahan dengan sepeda. Aku ingin bermandi hujan dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Aku ingin menghabiskan setiap minggu pagiku dengan menonton kartun kesukaan. Aku ingin menghabiskan setiap soreku bermain bola di lapangan dengan teman-teman kecilku sampai berakhir ketika kami mendengar suara adzan maghrib.
Aku ingin main kelereng lagi.
Aku ingin main kartu bergambar lagi.
Aku ingin main tamiya lagi.
Aku ingin main gangsing lagi.
Aku ingin main tajos, yoyo, petasan, petak umpet, batu tujuh, polisi maling, taplak gunung dan semua permainan yang dulu terasa begitu menyenangkan. Bukan seperti sekarang ini yang segala sesuatunya terlalu rumit dan sangat mengganggu isi kepalaku.
Saat itu aku pernah bertanya, "kapan aku dewasa?"
Aku berfikir, "ingin jadi apa aku ketika dewasa nanti?"
Dan pernah tidak sabar menantikan, aku ingin segera dewasa.
Karena menurutku menjadi dewasa itu luar biasa.
Dan sekarang umurku sudah 24 tahun, hampir menginjak angka 25. Aku masih bertanya, "apakah aku sudah dewasa?". Aku merasa belum menjadi apa-apa, hidupku tidak luar biasa.
Dan saat ini, andai bisa..
Aku sangat ingin kembali ke masa kecilku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar