Rabu, 25 Maret 2020

MAAF 19 NOVEMBER

Mengintip sedikit kisahmu. Yang tentu saja aku juga bersedih. Merasa bersalah lebih tepatnya, bahkan sangat. Kamu mudah terluka, aku tau. Maaf sudah membuat kamu merasa telah salah mempercayai orang sepertiku. Dan yang aku sesali adalah sampai kamu merasa bahwa kamu sebodoh itu. Hei, tidak seperti itu. Disini biar aku yang luruskan. Kalau ada yang harus disebut bodoh, percayalah, itu aku. Bagaimana tidak, aku telah dicintai dengan tulus yang bahkan seperti kamu lebih mencintaiku dibanding dirimu sendiri. Tapi malah ku sia-siakan, kukecewakan, kuhancurkan harapanmu dan pergi entah kemana. Yang bahkan akupun tidak benar-benar tau akan kemana. Oh ya, tentang keputusanku yang kamu bilang itu terbaik untukku, kamu salah, ini tidak baik. Dan menurutmu aku bahagia dengan keputusanku? itu juga tidak. Asal kamu tau, dalam hal apapun, aku selalu payah dalam mengambil keputusan.

Sekarang kamu sedang berusaha melawan perasaanmu untuk melupakanku, berusaha merelakan aku pergi. Meskipun itu terdengar menyakitkan, tapi aku memaklumi itu semua. Sudah sewajarnya kamu melakukan itu untuk orang yang tidak tepat untukmu. Yang harus kamu tau, saat itu aku tidak berbohong kalau aku ingin serius. Kamu ga perlu berusaha keras untuk selalu menjadi orang yang aku impikan, karena kamu memang yang aku inginkan. Hanya saja tindakan dan apa yang kulakukan saat itu tidak menunjukan bahwa itu semua benar adanya. Dan tentang aku yang merasa terbebani, bukan aku merasa terbebani olehmu. Bukan kamu yang menjadi bebanku tapi keadaanku saat itu benar-benar tidak memberiku ruang untuk berfikir bagaimana caranya memperbaiki hubungan kita. Dan lagi-lagi aku kesulitan untuk mejelaskan apa yang aku rasakan saat itu, yang pada akhirnya aku membuat keputusan yang salah untuk ribuan kalinya.

Terima kasih untuk saat itu kamu sudah bersedia mempertahankan sejauh itu.

Padahal itu adalah kesempatan kedua yang aku dapatkan, harusnya aku belajar dari yang pertama. Sudah kubilang disini aku lah yang bodoh, yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Mungkin Egoku masih terlalu besar, atau aku terlalu naif. Tentang pertanyaan "masih kurangkah kamu dimataku?" biar kujawab juga. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu sudah berjuang untukku, menjaga perasaanku, mempertahankan hubungan kita, mempertahankan semuanya. Kamu sudah melakukan lebih, jauh lebih baik dari apa yang aku lakukan. Dan aku terlambat menyadarinya. HaHa, bodoh sekali. Kalau kamu tanya masih adakah yang kurang?, itu adalah aku. Aku yang kurang mengerti dan menghargai kamu. Maaf.

Kamu tidak pernah salah menilaiku, karena aku sendirilah yang membuat apa yang kamu fikirkan tentangku menjadi benar. Kamu tau semuanya, tapi hanya sebatas "semuanya" bukan "sebenarnya". Kamu tidak benar-benar tau yang sebenarnya. Aku juga sering kali bertanya kepada diriku sendiri, kenapa orang yang menyayangiku, orang yang sepenuhnya mempercayaiku, orang yang sangat takut akan kehilangan diriku, justru malah kubuat kecewa? why? why i do that to someone i love. Damn!
Sekarang, setelah semua yang berlalu, dan kamu mulai mengikhlaskan, aku malah terfikirkan andai saja aku punya mesin waktu. Tak perlu kujelaskan untuk apa. Tapi yasudahlah. Kuharap meski sekarang kita jauh, kamu tidak membenciku. Walaupun harus kuakui itu wajar saja jika kamu ingin benci. Tapi kuharap tidak. Karena aku yakin kamu pasti sudah semakin dewasa.

Dan untuk satu tahun 19harinya.. Eh, maaf itu kalimat kamu haha. Aku udah kunjungin laman blog kamu. Bagus. I like your content, you make it very well. Sekarang kamu udah ga lagi nulis diary di note book kecil kamu seperti catatan belanja ibu-ibu. hahaha gapapa tapi itu keren. Sekarang disini, seperti judulnya, yang kucuri dari judul kamu. Eh engga deng, aku ubah sedikit. So, for everything we've been through, i'm so sorry. Maaf untuk "Luka 19 November" kamu.
Maaf aku pernah berjanji memperbaiki, tapi kuingkari.
Maaf aku bilang ingin berubah, tapi tidak kubuktikan.
Maaf aku membuatmu percaya lagi, tapi kuhancurkan.
Maaf sudah membiarkan kita kini hanya menjadi kenangan. Aku mengerti, mungkin ucapan maaf bertubi-tubi pun tak akan ada artinya untukmu dan terdengar seperti basa-basi.

Untukmu seseorang yang tidak pernah bisa kulupakan, semoga bahagia dimanapun kamu berada. Doa untukmu dari orang yang sudah tidak lagi istimewa :)

Senin, 09 Maret 2020

Dewasa, Tidak Luar Biasa!

Aku tidak tau apa yang salah dengan yang kujalani saat kuberanjak pergi dari masa kecilku kearah remaja dan menuju dewasa. Mungkin banyak kesalahan yang tanpa sadar sudah kulakukan dan aku tidak terlalu mempedulikannya. Aku membuat banyak keputusan yang salah. Untuk hal itu, apakah harus kumaklumi karena saat itu aku hanya seorang remaja setengah matang? yang aku fikirkan saat itu adalah hidup ini hanyalah rangkaian pesta dan kegembiraan. Seperti itulah masa remajaku. Cukup menyenangkan, hanya saja ada yang kusesali setelahnya.

Ini mulai tidak adil karena segala apa yang menyenangkan di masa kecilku tak ada yang membuatku menyesal.

Aku berfikir jalanku masih panjang dan mencoba mendewasakan diri. Tapi saat itu justru kehidupan malah seperti menamparku dengan begitu keras dan hebatnya. Yang tadinya hidupku seperti rangkaian pesta dan kegembiraan, menjadi rentetan kekacauan dan masalah. Kadang aku resah, gelisah, bahkan marah. Tapi semampu yang aku bisa, aku mencoba tetap terlihat santai dimanapun aku berada. Ketika aku sendiri, aku hanya bisa merenungi sambil tertawa kecil dan bergumam dalam hati "tuhan pasti benci manusia yang banyak berbuat dosa. Haha, terima saja. Mungkin ini hukumannya!".

Kukira aku masih lebih baik karena dibalik semua kekacauan yang berkecamuk di kepalaku, aku masih memiliki kehangatan dirumah, tempatku bersembunyi dari kebangsatan dunia yang menghantamku. Dari segala apa yang kurasa tidak baik-baik saja diluar sana, aku masih merasa aku baik-baik saja jika aku berada di rumah, bersama keluargaku. Sampai akhirnya aku merasa bahkan rumahku tak ada lagi kehangatan.

Apa-apaan ini? Kenapa semuanya semakin kacau?!

Mungkin sudah banyak yang merasakan sebelumnya, beberapa orang yang kukenal dan bahkan ada dari teman terdekatku yang juga sudah mengalami betapa menyebalkan berada ditengah-tengah keluarga yang sudah tidak harmonis. 

Betapa bising telingaku ketika hampir setiap hari mendengar pertengkaran kedua orang tua. Dan apa kalian tau rasanya terbangun dari tidur karena mendengar gaduh caci maki? diiringi dengan suara gelas atau piring yang pecah. Entahlah, aku tidak memperhatikan. Yang jelas dan masih tergambar di kepalaku adalah saat aku mendengar itu semua, aku langsung beranjak dari tempat tidurku, lari kearah kedua orang tuaku yang hampir saling pukul, atau mungkin sudah terjadi sebelum aku datangi mereka. Menurutku itu bukan cara yang baik untuk membangunkan anak yang sedang tidur. Meski aku berhasil melerai perkelahian mereka, namun itupun dengan amarah yang hampir tak bisa kutahan. Hampir kupukul ayahku. Aku lebih memilih menenangkan ibuku yang menangis, terlihat matanya menatap tajam penuh kebencian kearah ayahku dan kudengar ucapan yang mengatakan ia tak akan memaafkannya. Oh ya, ini tidak seharusnya kuceritakan, tapi yasudahlah.

Aku mengerti setiap orang memiliki masalah di hidupnya masing-masing. Mungkin ini terdengar murahan, tapi menurutku tidak apa-apa, sesekali memamerkan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. It's hard, just make it all looks like normal.

Apakah ini namanya menjadi dewasa? Ini memang luar biasa. Tapi bukan yang seperti ini yang kumaksud. Kuharap aku bisa memperbaiki semuanya, Aku ingin hidupku bisa menjadi lebih baik.

Dulu aku tidak harus pusing karena urusan pekerjaan.
Dulu aku tidak harus menjadi bodoh karena urusan cinta.
Dulu keluargaku baik-baik saja, aku suka dimarahi ketika aku main tak ingat waktu.
Sekarang aku harus jatuh bangun karena pekerjaan.
Sekarang aku sangat terganggu karena percintaan.
Sekarang aku main kemanapun, bahkan tidak pulang, tak ada yang mempedulikan.

Aku ingin kembali ke masa kecilku. Aku ingin mengitari perumahan dengan sepeda. Aku ingin bermandi hujan dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Aku ingin menghabiskan setiap minggu pagiku dengan menonton kartun kesukaan. Aku ingin menghabiskan setiap soreku bermain bola di lapangan dengan teman-teman kecilku sampai berakhir ketika kami mendengar suara adzan maghrib.

Aku ingin main kelereng lagi.
Aku ingin main kartu bergambar lagi.
Aku ingin main tamiya lagi.
Aku ingin main gangsing lagi.
Aku ingin main tajos, yoyo, petasan, petak umpet, batu tujuh, polisi maling, taplak gunung dan semua permainan yang dulu terasa begitu menyenangkan. Bukan seperti sekarang ini yang segala sesuatunya terlalu rumit dan sangat mengganggu isi kepalaku.

Saat itu aku pernah bertanya, "kapan aku dewasa?"
Aku berfikir, "ingin jadi apa aku ketika dewasa nanti?"
Dan pernah tidak sabar menantikan, aku ingin segera dewasa.
Karena menurutku menjadi dewasa itu luar biasa.

Dan sekarang umurku sudah 24 tahun, hampir menginjak angka 25. Aku masih bertanya, "apakah aku sudah dewasa?". Aku merasa belum menjadi apa-apa, hidupku tidak luar biasa.

Dan saat ini, andai bisa..
Aku sangat ingin kembali ke masa kecilku.